Tumbuh dalam Fitrah.
Bertumbuh Bersama Al-Qur’an.
Bagi kami, pendidikan anak usia dini bukan sekadar tentang seberapa cepat anak dapat membaca, berhitung, atau menghafal. Pendidikan adalah proses panjang dalam menumbuhkan manusia—membantu anak mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, memiliki adab yang baik, tumbuh mandiri, mampu mengenali dan mengelola emosinya, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta bertanggung jawab terhadap dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Pengalaman.
Berangkat dari pengalaman mendampingi proses tumbuh kembang anak, Ilmina mengembangkan Kurikulum Fitrah Tumbuh Bersama Ilmina, sebuah kurikulum berbasis fitrah yang berpedoman pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah serta diperkaya dengan pemahaman perkembangan anak usia dini.
Kurikulum 13 Nilai Dasar Fitrah.
Kurikulum ini dibangun di atas 13 Nilai Dasar Fitrah yang menempatkan tauhid sebagai poros kehidupan, adab sebagai fondasi ilmu, serta cinta dan kelembutan sebagai bahasa utama pendidikan. Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai materi yang diajarkan, tetapi dihidupkan melalui pengalaman nyata, bermain, pembiasaan, keteladanan, eksplorasi alam, interaksi sosial, kegiatan practical life, serta rutinitas keseharian anak.
Peran Guru yang Lengkap.
Karena itu, guru di Ilmina bukan hanya pengajar. Mereka hadir sebagai murabbi, pendamping tumbuhnya fitrah; sebagai muaddib, penanam adab; dan sebagai qudwah, teladan yang membersamai anak dengan kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan terhadap tahapan perkembangannya.
See what they’re saying.
Our happy customers have a lot to say about our products and services!
masyaallah anak kami selama disana berproses ke arah yg sangat positif dan sangat membanggakan.
Tak hanya kurikulum formal saja yg diajarkan tetapi ada hafalan juz 30, mengaji iqro, pembiasaan sholat dan yang terpenting disana sangat diajarkan adab oleh ustadzah-ustadzah yang sangat sabar, telaten dan cekatan.
Untuk kegiatan keseharian di sana para ustadzah sangat gercep mendokumentasikan smua kegiatan anak anak sehingga smua kegiatan disekolah terinfokan ke walimurid.
Terimakasih ustadzah ilmina quranic daycare sudah membersamai anak kami dari kecil dan semoga ilmina quranic daycare menjadi lembaga pendidikan berkembang lebih besar dan lebih maju.

Kanti Lestari
Senang banget anak bisa belajar di Ilmina Quranic Daycare. Tempatnya nyaman bikin anak betah. Ustadzah2nya juga ramah, sabar, dan benar-benar perhatian sama anak-anak, jadi sebagai orang tua rasanya lebih tenang.
Yang paling saya suka, anak nggak cuma diajak bermain, tapi juga dibiasakan berdoa, belajar Al-Qur’an, dan punya akhlak yang baik sejak dini. Komunikasi dengan orang tua juga enak dan terbuka. Terima kasih untuk seluruh tim Ilmina Quranic Daycare, semoga selalu sukses dan terus menjadi tempat terbaik untuk tumbuh kembang anak.

Miftakhul Ullum
Planning dari dulu memang cari sekolah plus day care untuk menghafal al qur’an biar anak terbiasa dengan al qur’an sejak dini, search di instagram nemu beberapa sekolah, ternyata yang paling cocok di hati cuma ilmina quranic day care, baik sistem maupun pengajarnya cocok, survey pertama kali langsung klik di hati. dengan biaya yang dikeluarkan worth it banget dengan fasilitas yang di dapat, apalagi ice breakingnya tema tauhid dan fiqh, masyaallah sekali anak saya semakin banyak hafalan haditsnya. Pengajarnya kooperatif berpengalaman dan juga penghafal al qur’an, point plusnya lagi ada massage, mana lagi yang dapet fasilitas plus2 kaya gini ❤️

Lisa Dwi Astuti
Alhamdulillah menemukan daycare di magelang yang pas di hati, nuansanya islami ibu gurunya sabar dan telaten. Awal sekolah memang shaka tiap pagi nangis karena masa transisi dari yg tadinya di rumah terus lalu harus bertemu dengan teman2 yg lain untuk bersosialisasi sekaligus belajar. Dannn masuk bulan ke 3 udh ga ada drama tiap pagi membujuk untuk mandi dan sekolah karena anaknya udh mulai nyaman, tiap ditanya sore ketika sudah plg dia selalu blg bu gurunya baik2 kok mah.. Tantrum di rumah juga udh mulai berkurang karena disekolah banyak kegiatan positif jd drmh ga kebanyakan main hp. Selain daycare yg jd nilai plus adalah diajarin sholat ngaji dan hapalan Al-Quran. Terimakasih ustadzah ilmina dan semua ibu guru yg sudah sabar dlm membersamai proses belajar shaka, semoga bisa menjadi tempat yg kelak shaka rindukan ketika sudah lulus dari ilmina daycare ❤️

Febriana Nur Rahma
Bersyukur bgt kami memilih ilmina Qur’anic Daycare untuk putri kecil kami. Selama bersama ilmina Qur’anic Daycare putri kami jd anak yg sangat mandiri, diajarkan kesabaran, adabnya sangat santun, jiwa sosialnya berkembang dgn sangat baik & terbaiknya putri kami dapat hafalan juz 30 dgn lancar. Terima kasih untuk semua ustadzah ilmina Qur’anic Daycare atas semua ilmu yg diberikan, untuk kesabaran , ketelatenan & penuh tanggung jawab menjaga anak2 kami semua. Makin sukses buat ilmina Qur’anic Daycare 👍🏻👍🏻👍🏻

Ifada Basyaiban

Belajar Menjaga Diri, Sejak Dini
Menjaga anak bukan hanya tentang memastikan mereka selalu berada di tempat yang aman. Ada saatnya kita perlu membekali mereka agar mampu menjaga dirinya sendiri.
Melalui Ice Story, anak-anak belajar mengenali tubuh sebagai amanah dari Allah. Mereka diperkenalkan, dengan bahasa sederhana sesuai usia, tentang bagian tubuh yang bersifat pribadi, apa yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain, serta sentuhan yang membuat mereka merasa aman maupun tidak nyaman.
Anak juga belajar bahwa mereka memiliki batasan.
Mereka boleh berkata tidak.
Mereka boleh menjauh ketika merasa tidak nyaman.
Mereka boleh mencari pertolongan dan bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya.
Sebab keberanian menjaga diri tidak tumbuh dalam satu hari. Ia dibangun dari pengetahuan kecil yang terus ditanamkan—hingga seorang anak memahami bahwa tubuhnya berharga, perasaannya layak didengarkan, dan dirinya pantas dilindungi.
Di Ilmina, kami ingin anak-anak bertumbuh bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan kesadaran bahwa menjaga diri adalah bagian dari menjaga amanah Allah.
Merayakan Setiap Langkah Bersama Al-Qur’an
Setiap ayat yang dihafalkan adalah perjalanan kecil yang layak dihargai.
Di Ilmina, anak-anak yang telah menyelesaikan hafalan satu juz mendapatkan momen apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas ketekunan, kesungguhan, dan proses panjang yang telah mereka jalani bersama Al-Qur’an.
Bukan tentang siapa yang paling cepat menghafal. Bukan pula tentang menjadikan hafalan sebagai perlombaan.
Kami ingin anak mengenang Al-Qur’an bersama perasaan yang indah—bahwa setiap usaha mereka dihargai, setiap kemajuan disyukuri, dan setiap ayat yang tumbuh dalam ingatan adalah karunia dari Allah.
Sebab sebelum kami berharap mereka menjadi anak-anak yang banyak hafalannya, kami ingin menumbuhkan sesuatu yang lebih dalam:
hati yang mencintai Al-Qur’an dan bahagia berjalan bersamanya.


Mengenal Ibadah, Sebelum Ia Menjadi Kewajiban
Selepas kelas tahfidz, anak-anak usia 19 bulan hingga 2,5 tahun mulai diperkenalkan pada praktik bersuci dan berwudu.
Mungkin mereka belum memahami seluruh makna dari setiap gerakan. Tangan-tangan kecil itu pun belum selalu mampu membasuh dengan sempurna. Namun bagi kami, pada usia dini yang terpenting bukanlah kesempurnaan gerak, melainkan kedekatan yang sedang dibangun melalui pembiasaan.
Di Ilmina, basic ibadah menjadi bagian penting dari kurikulum sejak usia dini. Anak dikenalkan pada bersuci, wudu, salat, doa, dan adab keseharian secara bertahap, konkret, menyenangkan, serta sesuai dengan tahap perkembangannya.
Sebab kami percaya, fitrah tauhid adalah poros kehidupan.
Kami ingin anak bertumbuh dengan pengalaman bahwa Allah bukan hanya dikenalkan melalui kata-kata, tetapi hadir dalam kesehariannya—ketika ia belajar berdoa, ketika mendengar ayat-ayat-Nya, ketika membersihkan diri, hingga perlahan mengenal bagaimana seorang hamba beribadah kepada Rabb-nya.
Hari ini mungkin hanya gerakan-gerakan kecil yang mereka tirukan.
Namun dari pembiasaan sederhana itulah, kami berharap kelak tumbuh sebuah kesadaran yang jauh lebih besar:
“Aku adalah hamba Allah, dan kepada-Nya hidupku kembali.”
Ketika Salat Perlahan Menjadi Kebiasaan
Salat Dhuha menjadi salah satu kegiatan inti di Ilmina Qur’anic Daycare. Selepas kelas tahfidz, tangan-tangan mungil itu mulai mengambil mukena mereka, bersiap untuk berwudu, lalu menunggu teman-temannya sebelum melaksanakan salat berjamaah.
Pemandangan sederhana yang kami jumpai hampir setiap hari, tetapi menyimpan proses belajar yang begitu besar.
Melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin dan konsisten, anak tidak hanya diperkenalkan pada gerakan salat. Mereka belajar mengikuti urutannya, mengenal bacaan demi bacaan, berjamaah bersama teman, serta perlahan memahami bahwa ada waktu-waktu dalam keseharian mereka yang dipersembahkan untuk menghadap Allah.
Kami tidak menuntut anak usia dini untuk segera sempurna dalam ibadahnya. Kami memilih mengenalkan, memberi teladan, lalu membiasakan. Sebab pada usia ini, sesuatu yang dilakukan berulang dengan pengalaman yang menyenangkan akan perlahan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Alhamdulillah, dari rutinitas sederhana yang dilakukan setiap hari, anak-anak mulai mampu menghafal bacaan salat di usia yang masih sangat dini. Namun bagi kami, pencapaian terbesarnya bukan sekadar ketika mereka mampu mengingat setiap bacaan.
Ada sesuatu yang jauh lebih ingin kami tumbuhkan:
ketika tangan kecil mereka mengambil mukena tanpa diminta, ketika kaki-kaki kecil itu berjalan menuju tempat salat dengan kesadaran sendiri, saat itulah kami melihat sebuah kebiasaan baik sedang menemukan tempatnya di dalam diri mereka.
Karena di Ilmina, kami percaya pendidikan tauhid tidak berhenti pada mengenalkan siapa Allah.
Ia perlahan ditumbuhkan melalui keseharian—hingga anak belajar bahwa mencintai Allah juga berarti senang datang menghadap-Nya.


Tangan Kecil yang Belajar Memberi
Ada satu momen yang selalu dinanti anak-anak di Ilmina: waktu berbagi.
Dengan tangan-tangan kecilnya, mereka berjalan menghampiri teman satu per satu. Ada yang membawa makanan, ada yang menerimanya dengan senyum lebar, ada pula yang masih harus diingatkan untuk menunggu giliran. Sederhana, tetapi justru dari pengalaman-pengalaman kecil seperti inilah nilai kehidupan mulai menemukan bentuknya.
Di Ilmina, berbagi bukan sekadar kegiatan memberikan makanan kepada teman. Melalui pembiasaan ini, anak belajar bahwa orang lain juga memiliki perasaan dan kebutuhan yang perlu diperhatikan. Mereka belajar memberi, menerima, mengucapkan terima kasih, menunggu giliran, dan merasakan kebahagiaan ketika sesuatu yang dimilikinya dapat dinikmati bersama.
Perlahan kami mengenalkan kepada mereka pesan Rasulullah ﷺ bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah—bahwa ada kemuliaan dalam memberi.
Tentu pada usia mereka, anak belum perlu memahami panjangnya penjelasan tentang sedekah dan kedermawanan. Mereka cukup diberi kesempatan untuk mengalami indahnya memberi.
Hari ini mungkin yang berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya hanyalah sepotong makanan kecil.
Namun bersamanya, kami berharap ada sesuatu yang ikut berpindah dan tumbuh di dalam hati mereka: empati, kasih sayang, kepedulian, dan kegembiraan ketika mampu membahagiakan orang lain.
Sebab kami ingin anak-anak Ilmina kelak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang pandai menerima banyak hal dari kehidupan, tetapi juga memiliki hati yang bertanya:
“Apa yang bisa aku berikan kepada orang lain?”
Karena pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari nasihat yang panjang. Kadang, ia bermula dari satu tangan kecil yang belajar mengulurkan miliknya kepada tangan kecil yang lain.

Pagi, Saat Pikiran Kecil Siap Bertumbuh
Pukul 06.45, hari belajar di Ilmina dimulai.
Kami memilih pagi sebagai waktu untuk kegiatan yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi, ketika anak-anak datang dengan tubuh yang masih segar dan pikiran yang siap menerima pengalaman baru.
Salah satu kegiatan utama adalah belajar membaca Al-Qur’an melalui Montessori Qur’an. Anak tidak hanya diajak mengenali bentuk huruf hijaiyah, tetapi belajar melalui pendekatan yang konkret, visual, dan melibatkan aktivitas langsung. Jari-jari kecil mereka menunjuk, menyentuh, mencocokkan, mengulang bunyi, lalu perlahan membangun hubungan antara bentuk huruf dan suara yang mereka dengar.
Dalam proses yang sama, kemampuan literasi awal juga mulai ditumbuhkan. Sesuai usia dan tahap perkembangannya, anak diperkenalkan pada huruf abjad, bunyi, suku kata, hingga secara bertahap belajar membaca.
Kami tidak ingin masa kecil mereka berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang paling cepat bisa membaca.
Karena itu, setiap anak diberi ruang untuk bertumbuh sesuai tahapannya. Guru mendampingi dari dekat, mengamati kemampuan masing-masing, memberikan stimulasi, lalu bergerak mengikuti kesiapan anak.
Bagi kami, belajar di usia dini seharusnya tidak memisahkan iman dari ilmu.
Maka pagi-pagi mereka dimulai dengan dua pintu literasi: perlahan mengenal huruf yang akan membawa mereka membaca dunia, sekaligus mengenal huruf-huruf yang kelak membawa mereka semakin dekat dengan firman Allah.
Dari huruf-huruf kecil itu, kami sedang menyiapkan perjalanan belajar yang panjang—agar anak tumbuh mencintai Al-Qur’an sekaligus mencintai ilmu.
Bertumbuh Bersama, Bukan Hanya Belajar Membaca
Di Ilmina, keseharian anak tidak hanya diisi dengan belajar membaca Al-Qur’an, menghafal, dan pembiasaan ibadah. Kami percaya bahwa setiap anak adalah amanah yang perlu ditumbuhkan secara utuh—iman dan adabnya, sekaligus kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosi, dan kreativitasnya.
Karena itu, kegiatan harian dirancang dengan beragam stimulasi yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Melalui kegiatan sederhana seperti mewarnai, misalnya, anak sebenarnya sedang melakukan banyak proses belajar sekaligus. Jemari kecil yang menggenggam pensil membantu melatih kekuatan tangan dan koordinasi mata-tangan sebagai bagian dari perkembangan motorik halus. Anak belajar mengenali warna, mengarahkan gerakan, mempertahankan perhatian, membuat pilihan, sekaligus mengekspresikan kreativitasnya.
Pada kegiatan lain, anak juga mendapatkan kesempatan untuk bergerak, bereksplorasi, bermain, mencoba, dan berinteraksi sehingga kemampuan motorik kasar, kemampuan motorik kasar terstimulasi dengan baik


Sore Hari, Saat Anak Belajar dari Pengalaman
Setelah beristirahat dan bangun dari tidur siang, kegiatan anak-anak di Ilmina berlanjut dengan suasana yang lebih aktif dan eksploratif.
Sesuai jadwal yang telah disusun, sore hari diisi dengan berbagai kegiatan seperti practical life, sensory play, stimulasi motorik, kreativitas, serta permainan terarah yang disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Ada hari ketika tangan-tangan kecil mereka belajar menggunting, memindahkan benda, menuang, menyusun, atau menyelesaikan pekerjaan sederhana. Pada kesempatan lain, mereka bermain dengan beragam tekstur, bentuk, dan material yang merangsang indra. Ada pula saatnya tubuh mereka diajak bergerak lebih aktif—melangkah, melompat, menjaga keseimbangan, melewati rintangan, dan menyelesaikan tantangan sederhana.
Bagi anak, semuanya terasa seperti bermain.
Namun di balik permainan itu, begitu banyak kemampuan sedang bertumbuh.
Koordinasi mata dan tangan terlatih. Motorik kasar dan halus berkembang. Anak belajar berkonsentrasi, memecahkan masalah, mengikuti instruksi, menunggu giliran, mencoba kembali ketika belum berhasil, hingga menyelesaikan sesuatu dengan usahanya sendiri.
Melalui practical life, anak juga memperoleh kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kami ingin mereka tidak hanya tumbuh menjadi anak yang banyak mengetahui, tetapi perlahan memiliki kemandirian dan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Sebab dunia anak adalah dunia pengalaman.
Mereka tidak hanya belajar ketika duduk mendengarkan guru. Mereka belajar ketika tangannya menyentuh, kakinya bergerak, matanya mengamati, pikirannya bertanya, dan dirinya berani mencoba.
Karena itu, setelah pagi mereka ditemani mengenal Al-Qur’an, literasi, dan pembiasaan ibadah, sore hari menjadi ruang bagi tubuh, indra, kreativitas, serta kemandiriannya untuk ikut bertumbuh.
Di Ilmina, satu hari bukan tentang membuat anak terus belajar. Ia tentang memberi kesempatan kepada seluruh bagian dalam dirinya untuk bertumbuh—dengan bermain, mengalami, mencoba, dan menemukan.

Tikar-Tikar Cinta Indonesia
Momen kemerdekaan di Ilmina tidak hanya menjadi perayaan untuk anak-anak. Kami ingin menghadirkan ruang agar Ayah, Bunda, dan anak dapat berhenti sejenak dari kesibukan, duduk dalam satu tikar, lalu menciptakan kenangan bersama.
Lahirlah *“Tikar-Tikar Cinta Indonesia”, sebuah kegiatan *mini family picnic yang dikemas dalam suasana perayaan Hari Kemerdekaan.
Setiap keluarga membawa kreativitasnya sendiri. Ada yang menghias tumpeng dengan begitu detail, menata makanan, mempercantik area piknik dengan nuansa merah putih, hingga menghadirkan berbagai ornamen sederhana yang membuat setiap tikar mempunyai cerita dan keunikannya masing-masing.
Namun yang kami rayakan sesungguhnya bukan hanya siapa yang memiliki tumpeng paling cantik atau dekorasi paling menarik.
Di balik satu tikar kecil, ada waktu yang sengaja diluangkan untuk keluarga.
Ayah dan Bunda bekerja sama menyiapkan sesuatu. Anak berada di tengah-tengah mereka, ikut melihat, membantu, bermain, tertawa, dan merasakan bahwa sekolahnya bukan dunia yang terpisah dari keluarganya.
Melalui kegiatan ini, anak juga diperkenalkan pada makna mencintai Indonesia dengan cara yang dekat dengan dunia mereka—melalui warna merah putih, kebersamaan, makanan, permainan, kegembiraan, serta cerita sederhana tentang negeri tempat mereka tumbuh.
Karena bagi kami, pendidikan anak tidak hanya berlangsung antara guru dan murid.
Ada sekolah yang mendidik, ada keluarga yang menguatkan, dan ada pengalaman bersama yang kelak menjadi kenangan.
Mungkin suatu hari anak-anak tidak lagi mengingat siapa yang memenangkan lomba atau bagaimana tumpeng mereka dihias.
Namun semoga mereka masih menyimpan sebuah rasa:
bahwa pernah ada satu pagi di masa kecilnya, ketika Ayah dan Bunda duduk bersamanya di atas sebuah tikar—tertawa, bermain, dan merayakan Indonesia bersama.
Sebab dari keluarga kecil yang penuh cinta, kita sedang menumbuhkan generasi yang kelak mencintai negerinya.
Setiap Anak Datang dengan Ceritanya Sendiri
Tidak semua anak datang ke Ilmina dengan titik awal yang sama.
Ada anak yang bergabung ketika kemampuan bicaranya belum berkembang sesuai tahapan usianya. Kata-kata yang mampu diucapkan masih terbatas, pelafalannya belum jelas, atau ia membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ingin dikatakan.
Bagi kami, kondisi tersebut bukan alasan untuk membandingkannya dengan anak lain. Justru di sanalah pendampingan perlu menjadi lebih personal.
Anak yang membutuhkan dukungan perkembangan bahasa mendapatkan pendekatan khusus melalui stimulasi yang intensif dan konsisten, termasuk pendampingan dalam kelas artikulasi. Melalui aktivitas yang menyenangkan, anak diajak memperkaya kosakata, melatih pengucapan, mendengarkan dan menirukan bunyi, serta membangun keberanian untuk berkomunikasi.
Stimulasi juga tidak berdiri sebagai kegiatan terpisah. Interaksi sehari-hari, bermain bersama teman, mendengarkan cerita, belajar Al-Qur’an, bernyanyi, menjawab pertanyaan, hingga percakapan sederhana dengan guru menjadi bagian dari lingkungan yang terus mengundang anak untuk menggunakan bahasanya.
Kami memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Karena itu, tujuan kami bukan membuat semua anak mencapai sesuatu pada waktu yang sama, melainkan mengenali kebutuhannya dan memberikan stimulasi yang tepat agar ia dapat berkembang dari titik tempat ia memulai.
Ada kalanya kemajuan itu terlihat besar. Ada pula yang hadir sangat perlahan—dari satu bunyi yang semakin jelas, satu kata baru, keberanian menjawab, hingga akhirnya sebuah kalimat sederhana terucap.
Dan bagi kami, kemajuan sekecil apa pun tetap layak disyukuri.
Sebab di balik satu kata yang akhirnya mampu diucapkan seorang anak, mungkin ada ratusan pengulangan, kesabaran seorang guru, dan keberanian kecil seorang anak yang memilih untuk terus mencoba.
Di Ilmina, kami tidak meminta setiap anak bertumbuh dengan cara yang sama. Kami ingin hadir, mengenali kebutuhannya, lalu membersamai setiap langkah perkembangannya.

Ready to take your next step?
Wujudkan rasa cinta kita pada ananda dengan pendidikan terbaik
